10 Pengajuan Klaim Tifar Admanco Pekerja PHK Bin Laden Dicairkan Astindo

Resiko Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sebelum berakhirnya perjanjian kerja

Jakarta - (15/08/16), 10 pengajuan klaim PT. Tifar Admanco untuk pekerja korban PHK masal perusahaan Bin Laden Grup telah dicairkan. Konsorsium Asuransi TKI Astindo kembali mencairkan Rp. 75 juta pada penyelesaian klaim PHK masal perusahaan kontruksi raksasa Arab Saudi tersebut.

Hendra Widjaya, Ketua Pelaksana Harian Konsorsium Asuransi TKI Astindo menegaskan, mekanisme persetujuan ditentukan setelah dokumen pendukung sebagai syarat pemberian santunan sudah lengkap, dan memenuhi ketentuan Polis maupun Permenaker. "Kami telah terima kelengkapan dokumen dari 10 TKI yang diajukan PT. Tifar Admanco. Tentunya dengan mudah dan cepat santunan kami berikan kepada yang berhak menerima," tegas Hendra.

Prosesi penyerahan santunan yang dilaksanakan di ruang Mediasi dan Advokasi, kantor BNP2TKI (10/08/16), dihadiri Direktur Pelayanan Pengaduan BNP2TKI, Muhammad Syafri, perwakilan PT. Tifar Admanco, Jhon Rizal dan Garda (Buruh Migrant Indonesia) BMI, Ali Nurdin.

Dengan demikian, Konsorsium Astindo telah membayarkan santunan sebanyak 57 TKI pekerja perusahaan Saudi Bin Laden Grup yang terkena PHK masal akibat tragedi jatuhnya crain di Mekah akhir tahun 2015 lalu.

"Dari 374 TKI Pekerja PHK Bin Laden yang masih aktif masa perlindungan di Astindo, kami sudah menerima 95 pengajuan klaim yang mana 57 klaim diantaranya sudah dilakukan penyelesaian klaim dengan optimal sebagai bentuk pertanggungjawaban konsorsium dalam memberikan santunan sesuai ketentuan Polis dan Permenaker," jelas Hendra.

Hendra juga mengutarakan Astindo masih menunggu komitmen PT. Tifar dalam memenuhi kelengkapan dokumen dari 25 pengajuan klaim yang telah diterima. "Penyelesaian klaim 25 TKI dari PT. Tifar belum dapat dipenuhi, karena masih menunggu kelengkapan dokumen. Kami berharap PT. Tifar dapat segera memberikan dokumen yang dibutuhkan, sehingga pencairan santunan dapat segera diterima oleh yang berhak," ujar Hendra.

Sementara, Jhon Rizal, perwakilan PT. Tifar Admanco mengungkapkan pihaknya masih terkendala dalam memenuhi dokumen perjanjian kerja TKI, sehingga penyelesaian klaim menjadi terhambat.

Selanjutnya, Hendra menyampaikan bilamana dokumen belum lengkap maka sementara penyelesaian klaim berdasarkan Polis dan Permenker akan dibayarkan sebagian dari jumlah nominal ganti rugi PHK dan akan dibayarkan secara penuh pada saat kelengkapan dokumen klaim dipenuhi.

Diakhir prosesi pemberian santunan, Direktur Pelayanan Pengaduan BNP2TKI, Muhammad Syafri mengingatkan TKI dapat langsung mengajukan klaim ke BNP2TKI melalui Crisis Center, tanpa melalui LSM yang membantu.

"Semoga apa yang diberikan oleh asuransi ada manfaatnya. Jangan dilihat dari nilainya tapi ada keinginan dan keseriusan untuk kita saling membantu sesama. Permasalahan diluar negeri adalah sesuatu hal yang tidak dapat kita duga. Mengingatkan kadang-kadang ditengah masalah yang menimpa TKI banyak LSM atau pihak pihak yang mencari keuntungan, kiranya TKI langsung berurusan dengan BNP2TKI saja. Karena sulit mencari orang yang dapat membantu lilahita'allah.  Perlu disampaikan kepada masyarakat juga, karena sekarang zamanya sudah berubah tidak seperti dulu lagi, sepanjang aturan dan ketentuan dipenuhi akan segera dilaksanakan (pembayaran klaimnya oleh asuransi)," ungkap Muhammad Safri dalam sambutannya.

Menurut Hendra masing-masing TKI telah menerima santunan Rp. 7,5 juta sesuai risiko yang dialami karena PHK berdasarkan ketentuan Polis dan Pemenaker. "Dari 10 pengajuan klaim yang telah disetujui, hanya 8 TKI yang hadir untuk menerima langsung santunan, 2 TKI lagi berhalangan sehingga kami memberikan santunan menggunakan mekanisme transfer," ujar Hendra.

Sakimin, perwakilan TKI yang menerima ganti rugi asuransi atas risiko PHK Bin Laden mengapresiasi Konsorsium Astindo yang telah memberikan santunan dengan optimal (Wea)

Penyerahan Santunan Lainnya